Anak Tidak Mau Sekolah? Bagaimana Cara Mengatasinya?

Masa transisi antara musim libur dan kembali ke sekolah sering menjadi momen menantang untuk banyak orang tua. Tak jarang anak-anak maupun remaja yang menunjukkan sikap mogok sekolah dengan berbagai macam cara mulai dari menangis sampai marah. Kondisi ini dinamakan school refusal atau tidak mau sekolah. Sebagai orang tua, berikut adalah beberapa cara agar Anda dapat mengidentifikasi dan menanggulanginya.

Apa Itu School Refusal?

Perubahan dari rutinitas musim liburan yang santai ke aktivitas sekolah yang menharuskan anak bangun pagi dan belajar – membuat mereka merasa cemas dan marah terutama saat tahun ajaran baru dimulai.

Tak jarang pula bagi beberapa siswa, kegiatan sekolah terasa sangat sulit dan terasa “berlebihan” sehingga mereka mengalami kecemasan yang membuat stress. Untuk mengatasi kecemasan ini anak-anak atau remaja mulai menghindari sekolah.

School refusal atau mogok sekolah ini bisa memiliki bentuk yang berbeda-beda. Bisa merujuk pada perilaku kesulitan sampai di sekolah tepat waktu secara berulang-ulang, pulang ketika jam sekolah belum selesai, atau tidak datang ke sekolah sama sekali. Sakit kepala, kecapekan, sakit perut dan gejala fisik lainnya dari kecemasan ini bisa membuat mereka sulit untuk datang ke sekolah dan membuat mereka merasa harus pulang cepat.

Ketika hal-hal tersebut dibiarkan, siswa akan secara terus-menerus untuk menghindari sekolah. Bila dibiarkan, hal ini dapat membuat rutinitas sekolah yang mereka jalani kian terasa berat sehingga berakibat menurunnya nilai akademik siswa.

Lalu, apa saja yang bisa dilakukan orang tua untuk menghentikan siklus mogok sekolah ini? Berikut ini beberapa tips untuk menanganinya:

  • Atasi dengan cepat.  Jangan biarkan masalah menghindari sekolah ini berlangsung lama. Semakin di ulur semakin lama pula penyelesaiannya. Secepat mungkin lakukan penanganan yang sesuai agar masalah tidak menjadi berlarut-larut.
  • Identifikasi masalah. Coba bantu cari tau kenapa anak Anda menghindari sekolah. Tanyakan baik-baik apa yang membuat sekolah menjadi sangat berat. Jadilah pendengar untuk mereka. Dengan begitu, Anda bisa mengindentifikasi permasalahan yang mereka hadapi, yang membuat mereka tidak ingin berada disekolah atau tidak nyaman menjalani aktivitas sekolah.
  • Komunikasi dan kolaborasi. Sekolah si anak nyatanya menjadi peran yang penting untuk dapat melawan aksi mogok sekolah ini. Komunikasikan segala masalah kepada pihak sekolah yang memiliki kapabilitas dan kewenangan. Berkolaborasilah dengan guru bila perlu agar dapat menangani masalah ini dengan pendekatan yang lebih personal. Dengan begitu, bisa ditemukan cara pemecahan masalah yang efektif.
  • Bersikaplah secara tegas. Empati kepada anak memang boleh tetapi sikap tegas sekali-sekali sangat diperlukan. Jelaskan kepada mereka bahwa sekolah itu penting sekali. Tenangkan mereka dan yakinkan bahwa mereka bisa mengatasi segala kecemasan dan masalah yang sedang mereka alami begitu mereka terbiasa lagi dengan sekolah.
  • Buatlah kegiatan di rumah jadi membosankan. Adakah kegiatan dirumah yang membuat mereka terlalu nyaman? Beri penjelasan jika mereka tidak sekolah, konsekuensinya adalah fasilitas yang mereka dapatkan di rumah akan hilang.

Menghindari sekolah merupakan masalah yang serius yang akan menjadi lebih buruk jika tidak ditangani secepat mungkin. Jika diperlukan, konsultasikan masalah kepada ahli kesehatan  mental yang berlisensi, yang khusus menangani kecemasan yang dialami anak-anak dan bisa mendukung Anda dalam membantu anak Anda kembali ke sekolah.

Parenting Read More