Anak Hiperaktif? Kenali Kondisinya dan Atasi Sejak Dini!

Setiap orang tua tentu mengharapkan anak-anaknya tumbuh dengan baik dan sehat. Anak yang sehat bisa dilihat dari keaktifan dalam merespons hal-hal disekitarnya. Namun, apa yang terjadi jika orang tua merasa anaknya hiperaktif? Apakah kondisi anak hiperaktif adalah hal yang tidak perlu dikhawatirkan? Atau justru, hal yang berbahaya untuk Si Kecil jika dibiarkan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mari kita simak penjelasannya di sini.

Mengenal anak hiperaktif.

Mungkin saja saat ini Anda memiliki anak yang sedang aktif-aktifnya melakukan sesuatu. Mulai dari memanjat, melompat, mencoret-coret dinding, berlarian, hingga melakukan hal-hal lainnya tanpa mengenal waktu. Tahukah Anda? Anak hiperaktif adalah anak yang memiliki keaktifan tidak sesuai dengan waktu atau aturan pada umumnya. Inilah yang menjadi perbedaan dasar pada anak aktif dengan anak hiperaktif.

Dikutip dari laman Understood, beberapa ciri-ciri anak hiperaktif adalah sebagai berikut.

  • Berlari dan berteriak ketika bermain di luar maupun di dalam ruangan.
  • Berdiri dan berkeliling ke meja temannya saat guru menjelaskan di depan kelas.
  • Suka bergerak cepat, sehingga menabrak orang atau benda.
  • Bermain terlalu kasar dan tidak sengaja melukai dirinya sendiri ataupun teman-temannya.
  • Terus berbicara bahkan di saat orang-orang sekitar sedang diam.
  • Sering mengganggu orang lain.
  • Tubuhnya terus bergerak bahkan ketika duduk.
  • Sering merasa gelisah dan ingin memiliki semuanya.
  • Sulit untuk duduk diam saat makan ataupun kegiatan tenang lainnya.

Apabila anak mulai melakukan hal-hal di atas tanpa mengenal waktu dan tidak lagi mendengarkan perintah Anda, maka mungkin anak mengalami gejala hiperaktif.

Penyebab anak hiperaktif.

Penyebab anak hiperaktif bisa bermacam-macam. Dikutip dari Very Well Family, ada beberapa hal yang menyebabkan kondisi anak menjadi hiperaktif.

  1. Stres akibat anak terlalu banyak mengalami tekanan, seperti memiliki adik baru, pindah rumah, keluarga yang tidak harmonis, dan sebagainya.
  2. Gangguan kecemasan atau trauma terhadap suatu hal tertentu.
  3. Pola makan yang tidak sehat, seperti sering mengonsumsi makanan yang mengandung pemanis, pengawet, dan pewarna buatan.
  4. Malas olahraga, sehingga jadi tidak produktif saat seusianya.
  5. Kurang tidur yang akan memicu tubuh lebih banyak melepas hormon kortisol dan adrenalin. Akibatnya, anak memiliki banyak energi untuk tetap terjaga.
  6. Masalah kesehatan tertentu, seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), kelenjar tiroid terlalu aktif (hipertiroidisme), serta gangguan pada sistem saraf.

Kapan Anda bisa mengenali anak hiperaktif?

Hiperaktif memang tidak mudah ditentukan, karena bisa bersifat subjektif bagi sebagian orang. Perlu digarisbawahi, hiperaktif tidaklah sama dengan aktif. Anak hiperaktif cenderung konstan dan melakukan sesuatu di luar kendali dirinya. Adapun anak yang aktif cenderung lebih mudah untuk bergabung dalam apa yang sedang terjadi. Lalu, merasa sangat frustasi jika anak tersebut mengalamikesulitan dalam sesuatu yang benar-benar ingin mereka ketahui atau harapkan.

Sementara itu, kondisi anak hiperaktif juga dilihat dari faktor usianya. Umumnya, anak-anak butuh waktu untuk menunjukkan keterampilannya dan menjaga perilaku mereka tetap terkendali. Tidak semua anak-anak memiliki batasan usia yang sama dalam hal tersebut. Misalnya, ada anak yang bisa mengontrol diri dengan baik saat berusia 4 tahun, sedangkan anak-anak lain butuh waktu 6 tahun untuk melatihnya.

Nah, ada suatu masa di mana Anda melihat sebagian besar anak-anak pada kelompok umur yang sama memiliki keterampilan mengatur diri sendiri yang serupa. Namun, pada anak hiperaktif, hal tersebut justru tidak terlihat. Saat itulah, Anda mulai waspada adanya masalah yang sedang terjadi pada anak. 

Cara mengatasi anak hiperaktif.

Semakin cepat Anda mengetahui kondisi anak hiperaktif, maka semakin cepat pula penanganan yang dapat diberikan untuk anak. Mulailah untuk mengubah bentuk keaktifan anak melalui permainan, olahraga, dan aktivitas fisik. Lalu, ciptakan kehidupan yang terstruktur, sehingga anak memiliki kebiasaan yang teratur dan disiplin. Jangan lupa, latih anak Anda untuk tidur secara rutin. Jika sudah waktunya tidur, maka tidak ada lagi kegiatan lain, seperti main gadget yang bisa mengganggu waktu tidurnya.

Kondisi anak hiperaktif bisa menjadi hal yang sulit bagi seluruh keluarga. Namun, satu hal penting yang bisa Anda lakukan adalah membuat anak tidak merasa buruk atau malu berada di lingkungan sekitarnya. Selalu berikan dukungan dan dampingi anak Anda, agar kelak bisa mengontrol dirinya sendiri seiring berjalannya waktu.

Parenting

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*