Perilaku Abusive: Apa Yang Perlu Diketahui?

Menjalin suatu hubungan belum tentu menjadi hal yang mudah untuk dilakukan. Suatu hubungan bisa saja melibatkan kekerasan atau perilaku abusive (abusif). Perilaku tersebut sering terjadi dalam suatu hubungan antarpasangan. Perilaku abusive tidak hanya melibatkan kekerasan secara fisik, namun juga melibatkan kekerasan dalam bentuk emosional atau seksual.

Dampaknya Bagi Korban

Jika masalah seperti ini dibiarkan terjadi, maka akan berdampak buruk bagi korban. Orang-orang yang memiliki perilaku abusive dapat membuat pasangan atau orang lain merasa kurang percaya diri, takut, bahkan ingin sembunyi dari kenyataan dimana masalah tersebut dapat menghantui mereka.

Tanda-Tanda Perilaku Abusive

Untuk mengetahui bahwa seseorang memiliki perilaku abusive, berikut adalah beberapa tanda yang perlu Anda perhatikan:

  1. Mengatur pasangan

Tanda seperti ini menunjukkan bahwa seseorang ingin pasangannya untuk melakukan apa yang dia inginkan atau tidak, seperti menyiapkan makanan untuknya, melarangnya untuk pergi bersama teman, mengenakan pakaian sesuai kemauannya, atau meminta pasangan untuk memberi kabar setiap saat.

  • Kekerasan verbal dan emosional

Perilaku abusive tentunya termasuk kekerasan verbal. Banyak pasangan yang mengalami masalah seperti ini. Jika masalah tersebut tidak diperbaiki, masalah tersebut mungkin akan berujung dengan perceraian. Contoh kekerasan verbal yang sering dialami pasangan adalah perbedaan pendapat tentang sesuatu atau ancaman jika tidak mematuhi apa yang dikatakan pasangan.

Selain itu, perilaku abusive juga melibatkan emosional dimana seseorang dapat membuat pasangannya marah terhadap masalah yang terjadi, atau sedih karena merasa tidak tangguh dalam menghadapi masalah dengan pasangan.

  • Kekerasan fisik

Masalah seperti ini juga sering dialami oleh pasangan yang sudah menikah. Istilah tersebut disebut sebagai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Masalah ini tidak hanya terjadi secara verbal, namun juga terjadi secara fisik. Contoh kekerasan fisik yang terjadi adalah memukul atau menampar mereka.

  • Kekerasan seksual

Kekerasan seksual adalah perilaku abusive yang terjadi dengan memaksa pasangan atau orang lain berhubungan secara seksual dengan memeluk, mencium, dan merabanya.

  • Masalah finansial

Perilaku abusive seperti ini juga sering terjadi. Seseorang mungkin ingin mengambil alih uang yang dimiliki, namun tidak memberikan sejumlah uang kepada pasangan, atau jumlah yang diterima kurang untuk membeli kebutuhan pokok.

  • Melibatkan anak

Perilaku abusive juga melibatkan anak dimana pengaruh orang tua memberikan dampak bagi anak. Kekerasan yang dialami orang tua membuat anak ingin meniru hal tersebut, atau melawan orang tuanya.

Cara Mengatasi Perilaku Abusive

Perilaku abusive dalam bentuk apapun dapat mempengaruhi fisik atau mental manusia. Selain itu, perilaku abusive juga dapat terjadi baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Oleh karena itu, berikut adalah beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menghadapi perilaku abusive:

  1. Ubah prioritas Anda

Perilaku abusive dapat memanipulasi rasa simpati korban, dan seringkali membuat korban mengabaikan diri sendiri dan menjaga pelaku. Untuk mengatasi masalah ini, Anda juga perlu memikirkan diri sendiri.

  • Tetapkan batasan

Jika Anda adalah salah satu korban kekerasan psikologis atau emosional, Anda perlu menetapkan batasan dengan orang yang melakukan pelecehan untuk mencegah masalah seperti ini.

  • Laporkan kepada pihak berkaitan

Jika Anda mengalami kekerasan dalam bentuk fisik, verbal, atau bentuk lain yang menyakiti Anda, Anda sebaiknya laporkan masalah ini kepada pihak yang berkaitan agar Anda dapat dilindungi dari orang yang telah melakukan kekerasan terhadap Anda.

  • Lupakan masalah yang terjadi

Jika Anda pernah mengalami perilaku abusive oleh pasangan atau orang lain, Anda sebaiknya melupakan masalah tersebut atau move on. Anda juga perlu pikirkan tentang kehidupan Anda di masa depan.

Anda juga dapat meminta bantuan kepada seorang ahli atau terapi untuk mengatasi masalah seperti ini. Dengan cara ini, Anda tidak perlu menghadapi masalah yang dialami sendiri. Orang lain dapat membantu mengatasi masalah Anda.

Kesimpulan

Itulah perilaku abusive yang perlu Anda pahami. Masalah seperti ini dapat diatasi dengan cara-cara yang disebutkan di atas. Anda perlu membela diri terhadap orang yang melakukan kekerasan terhadap Anda, karena Anda akan melakukan hal yang benar.

Kesehatan Mental Read More

Mengenal Penyebab dan Gejala Gangguan Mental Organik

Umumnya, gangguan mental organik terjadi pada orang-orang lanjut usia, meski tidak menutup kemungkinan kondisi ini menyerang seseorang dengan usia muda. Pada akhirnya, penderita gangguan mental organik biasanya akan mengalami penurunan fungsi mental, seperti kesulitan memahami bahasa, kesulitan melakukan aktivitas harian, juga gangguan ingatan.

Istilah gangguan mental organik sebetulnya lebih kenal dengan neurocognitive disorder  atau gangguan neurokognitif. Gangguan ini merujuk pada kondisi terjadinya beberapa gangguan fisik yang memengaruhi fungsi mental.

Penyebab gangguan mental organik

Terlepas dari namanya, gangguan mental organik, namun sebetulnya kondisi ini tidak berhubungan dengan penyakit mental. Gangguan ini kebanyakan disebabkan oleh penyakit-penyakit neurodegeneratif.

Beberapa penyakit yang dapat memicu gangguan mental organik adalah sebagai berikut:

1. Dementia

Kondisi demensia yang dapat menimbulkan gangguan mental organik adalah demensia akibat gangguan metabolisme, antara lain kekurangan vitamin B12, kekurangan asam folat, serta adanya penyakit ginjal dan tiroid.

2. Penyakit Alzheimer

Penyakit ini menyerang fungsi otak. Akibatnya, terjadi penurunan fungsi kognitif dan menurun hingga hilangnya daya ingat. Penyakit Alzheimer bersifat progresif, artinya akan memburuk seiring bertambahnya waktu.

Oleh sebab itu, kemampuan intelektual dan sosial penderita Alzheimer akan terus menurun dari waktu ke waktu.

3. Penyakit Huntington

Ini merupakan penyakit menurun. Penderita akan mengalami kerusakan sel-sel saraf pada otak yang bersifat progresif. Perburukan akan terjadi secara bertahap dan dapat berakibat fatal setelah 20 tahun.

4. Multiple sclerosis

Multiple sclerosis merupakan penyakit autoimun yang menyerang susunan saraf pusat, yakni otak dan tulang belakang. Pada kasus autoimun, sel-sel imun tubuh yang idealnya menyerang penyakit, tetapi justru malah menyerang sel-sel tubuh yang sehat.

MS atau multiple sclerosis akan menyebabkan peradangan dan kerusakan sel saraf. Akibatnya, akan timbul kondisi-kondisi disabilitas dengan level yang berbeda-beda.

Selain penyakit-penyakit tersebut, masih ada penyakit dan gangguan medis lain yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan mental organik. Cedera otak, stroke, adanya gumpalan darah, infeksi otak, kekurangan asupan oksigen ke otak, merupakan beberapa kondisi yang juga dapat memicu gangguan mental organik.

Gejala gangguan mental organik

Seperti juga penyakit lain, gangguan mental organik akan menunjukkan gejala yang bervariasi. Tanda-tanda umum yang dialami oleh penderita gangguan ini, diantaranya perubahan mood atau suasana hati, mengalami kebingungan atau linglung, mudah marah, serta adanya perubahan perilaku, kemampuan kognitif, dan gangguan ingatan.

Selain gejala-gejala tersebut, penderita juga dapat mengalami kesulitan ketika melakukan pekerjaan yang sebetulnya mudah bagi orang lain, kesulitan berkonsentrasi dalam waktu lama, serta kesulitan berjalan dan mengalami gangguan keseimbangan, seperti mudah limbung.

Penurunan kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain juga mungkin dialami oleh penderita gangguan mental organik. Di samping itu, gangguan penglihatan juga bisa menjadi salah satu gejala yang muncul.

Pada kasus gangguan mental organik yang diakibatkan cedera otak, penderita juga sering kali mengalami sakit kepala. Meskipun, tentu saja tidak semua sakit kepala berarti tanda adanya gangguan mental organik.

Apabila Anda atau keluarga merasakan gejala-gejala tersebut, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Sepintas mungkin tanda atau gejala yang muncul terlihat “biasa”, seperti sakit kepala atau gangguan penglihatan. Akan tetapi, hal tersebut bisa saja timbul karena gangguan yang serius.

Sampai saat ini, gangguan mental organik memang belum dapat disembuhkan. Namun, deteksi dini akan membantu agar kondisi penderita tidak semakin parah.

Kesehatan Mental Read More

4 Cara Menghadapi Orang yang Ingin Bunuh Diri

Beberapa waktu lalu terjadi sebuah peristiwa yang menggemparkan dari Bandar Lampung. Seorang pemuda melakukan aksi bunuh diri dengan melompat dari gedung Transmart Lampung.

Mirisnya, kebanyakan orang malah hanya berdiri dan merekam adegan pemuda tersebut melompat dari gedung, bukannya mencoba untuk membujuknya untuk tidak melakukan bunuh diri. Bahkan salah satu dari orang yang merekam aksi bunuh diri yang dilakukan pemuda tersebut malah mendukung agar ia melompat dari gedung.

Tidak hanya itu, kebanyakan orang juga tidak memperlihatkan rasa empati terhadap peristiwa bunuh diri tersebut dan malah menjadikannya sebagai sebuah lelucon.

Melalui peristiwa ini Anda mungkin akan terpikirkan: “Apakah ada cara untuk dapat menolong pemuda tersebut?”

Berikut ini beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk mencegah seseorang untuk melakukan bunuh diri.

  • Kenali Tanda-Tandanya

Sebelum seseorang melakukan bunuh diri, terdapat beberapa perubahan yang terjadi pada orang tersebut. Biasanya orang yang telah memiliki niat untuk melakukan bunuh diri akan sering membicarakan mengenai kematian dan bunuh diri.

Selain itu, individu yang memiliki pemikiran ingin bunuh diri cenderung menarik diri dari lingkungan sosialnya dan lebih memilih untuk sendirian serta cenderung memiliki mood yang berubah-ubah. Terdapat juga perubahan rutinitas, seperti pola tidur atau makan yang tidak teratur.

  • Ajak Berdiskusi

Penelitian yang dilakukan oleh Mathias dan rekan-rekannya pada tahun 2012 di Amerika mengenai bahaya menanyakan pemikiran bunuh diri pada remaja  menemukan bahwa bertanya mengenai bunuh diri tidak akan meningkatkan resiko individu untuk melakukan bunuh diri.

Oleh karenanya, Anda dapat mendukung orang di sekitar Anda yang kemungkinan memiliki keinginan untuk bunuh diri untuk terbuka kepada Anda.

Membicarakan hal apa yang mendorong individu untuk ingin melakukan bunuh diri dapat membantu menenangkan dan membuat orang yang ingin bunuh diri untuk berpikir dan mencari solusi atas permasalahan yang memicunya ingin melakukan bunuh diri.

Saat Anda mendengarkan dan berbicara dengannya, cobalah untuk mengerti emosi yang dialami oleh individu tersebut dan tidak menghakimi apa yang orang tersebut rasakan.

  • Mencari Bantuan Profesional

Saat Anda mendapati bahwa orang yang Anda kenal ingin melakukan bunuh diri, Anda dapat mendiskusikan hal ini dengan konselor atau psikolog. Anda juga dapat merujuk teman atau keluarga Anda yang mungkin memiliki keinginan untuk bunuh diri ke konselor atau psikolog.

Anda juga dapat mendorongnya untuk menghubungi layanan gawat darurat nasional Kementerian Kesehatan 119 atau contact center Polri 110. Selain itu, terdapat juga beberapa rumah sakit yang menyediakan layanan telepon konseling pencegahan bunuh diri.

  • Temani dan Jaga

Jika seseorang telah mencoba untuk melakukan bunuh diri, temani dan jangan tinggalkan orang tersebut sendirian.

Anda dapat mencoba untuk menenangkannya dan menyingkirkan benda-benda yang dapat digunakannya untuk melukai dirinya. Anda juga dapat segera menelpon contact center Polri 110 ataupun layanan gawat darurat nasional Kementerian Kesehatan 119. 

Semoga langkah-langkah di atas dapat memberikan Anda suatu solusi untuk dapat membantu orang-orang di sekitar Anda yang mungkin memiliki keinginan untuk melakukan bunuh diri.

Namun, yang paling terpenting adalah kepekaan dan keinginan Anda untuk ingin menjangkau dan membantu orang-orang di sekitar Anda yang sedang tertekan dan berniat untuk melakukan bunuh diri.

Kesehatan Mental Read More