Melihat Beda Bronkopneumonia dan Penyakit Sistem Pernapasan Lain

Ada banyak ragam penyakit yang dapat menyerang organ pernapasan manusia, mulai dari yang ringan sampai yang membahayakan nyawa. Sebut saja flu atau batuk, bronkopneumonia, hingga kanker paru-paru. Hampir sebagian besar penyebab timbulnya penyakit yang menyerang organ sistem pernapasan adalah infeksi bakteri atau virus.

Hal ini amat wajar jika kita tahu dan paham cara kerja organ sistem pernapasan. Mereka mensirkulasikan udara dari dalam ke luar tubuh dan sebaliknya. Padahal, kita menyadari betul bahwa udara yang kita hirup tak pernah benar-benar aman dari bakteri atau virus yang dapat menyebabkan penyakit itu.

Pada kesempatan kali ini, akan dibahas mengenai bronkopneumonia, bronkitis, dan bronkiolitis. Ketiganya mungkin terdengar tak jauh berbeda. Apalagi jika kita tak paham betul mengenai macam-macam penyakit pernapasan. Padahal, ketiganya adalah jenis penyakit yang berbeda, meski tetap terdapat beberapa kesamaan di sana.

Nah, oleh karena itu, agar tak tertukar-tukar—dan kita bisa memahami bila suatu saat kita atau orang-orang terdekat kita terserang salah satu di antaranya, berikut dipaparkan perbedaan antara bronkopneumonia, bronkitis, dan bronkiolitis.

  • Bronkopneumonia

Yang pertama adalah bronkopneumonia. Penyakit ini terjadi setelah bakteri dan virus penyebab membuat peradangan atau infeksi yang mengenai jaringan paru dan sekitarnya. Bronkopneumonia ini bisa menyerang siapa saja, tetapi utamanya anak baru lahir hingga usia 5 tahun ke atas.

  • Penyebab

Penyakit bronkopneumonia ini disebabkan berbagai macam virus, bakteri, atau jamur. Bakteri yang paling sering menyebabkan bronkopneumonia adalah pneumokokus (Streptococcus pneumonia), HiB (Haemophilus influenza typeb), dan stafilokokus (Staphylococcus aureus).

Adapun virus penyebab sangat banyak, misalnya rhinovirus,respiratory syncytial virus (RSV) atau virus influenza.

  • Gejala

Gejala bronkopneumonia biasanya diawali dengan indikasi seperti flu pada umumnya. Semakin hari, gejala ini akan semakin parah. Selain itu, tanda-tanda seseorang mengalami bronkopneumonia antara lain: batuk, demam, nyeri dada, detak datung cepat, hingga menyebabkan napas cepat seperti terengah-engah.

  • Bronkiolitis

Penyakit bronkiolitis adalah peradangan atau infeksi pada bronkioli (cabang dari bronkus pada tenggorokan bisa juga kita sebut sebagai bagian saluran nafas yang kecil) sering terjadi pada si kecil yang berusia kurang dari 2 tahun.

Bronkus sendiri adalah saluran atau tempat jalan pada sistem pernafasan yang membawa udara ke paru-paru.

Penyebab paling sering adalah virus yakni Respiratory syncytial virus (RSV). Selain itu bisa juga disebabkan oleh Adenovirus, Influenza virus, Parainfluenza, Rhinovirus.

  • Bronkitis

Penyakit bronkitis adalah proses peradangan yang bisa mengenai mulai dari trakea (saluran nafas atas yang berbentuk tabung), bronkus (cabang paru-paru) utama dan menengah (saluran nafas besar) yang ditandai sebagai batuk, serta biasanya akan membaik tanpa terapi dalam 2 minggu.

Bronkitis ini bisa disebabkan oleh bakteri, viru, atau alergi. Bronkitis karena bakteri biasanya dikaitkan dengan Mycoplasma pneumoniae, Bordetella pertussis, atau Corynebacterium diphtheriae.

Bronkitis disebabkan oleh virus, antara lain yaitu Rhinovirus, RSV, virus Influenza, virus Parainfluenza, Adenovirus, virus Rubeola, dan Paramyxovirus.

Akan tetapi, zat iritan (bahan yang menyebakan alergi sehingga terjadi peradangan) seperti asam lambung, atau polusi lingkungan, dilaporkan dapat menyebabkan bronkitis.

Gejala yang paling khas dari penyakit ini adalah batuk. Biasanya mengikuti seperti gejala infeksi saluran atas seperti pilek, sukar menelan, bisa ditemukan demam namun tidak terlalu tinggi.

Pada si kecil yang sudah sedikit besar biasanya akan ditemukan batuk disertai dahak. Bunyi “mengi” juga kadang dapat terdengar.

***

Nah, kira-kira itulah beberapa perbedaan antara bronkopneumonia, bronkitis, dan bronkiolitis yang bisa Anda perhatikan. Ketiganya memang tidak terlalu berbahaya jika masih dalam tahap awal. Penyakit-penyakit ini pun dapat diatasi dengan serangkaian perawatan di rumah.

Namun, jangan pernah sekali pun menyepelekan penyakit. Jika telah bergulir ke tahap yang parah, atau tidak tertangani dengan baik, bukan tidak mungkin bronkopneumonia, bronkitis, dan bronkiolitis dapat menimbulkan komplikasi yang justru membahayakan nyawa.

Penyakit Read More

Gegar Otak Pada Anak dan Remaja; Cara Perawatannya.

Ada banyak sekali perhatian yang ditujukan untuk gegar otak pada remaja, khususnya yang disebabkan oleh aktivitas olahraga.

CDC (Centers for Disease Control and Prevention) telah menelaah seluruh penelitian dan membuat beberapa rekomendasi untuk membantu kita dalam merawat anak-anak yang mengalami gegar otak.

Berikut ini ringkasan beberapa rekodemendasi baru untuk perawatan terhadap gegar otak

  • Kebanyakan kasus anak-anak yang gegar otak tidak membutuhkan CT atau MRI scan. Namun jika ada cidera parah atau anak tersebut memiliki gejala tidak umum, maka wajib menjalaninya untuk memastikan tidak terjadi pendarahan dalam, patah tulang atau cedera lainnya.
  • Gunakan alat yang tepat untuk melakukan diagnosis. Ada beberapa gejala yang kita hubungkan dengan gegar otak, seperti sakit kepala yang parah, rasa pusing, hilang ingatan ketika kecelakaan. Tetapi, karena hal itu tidak selalu benar, maka gunakan checklist kuisioner yang sudah valid. CDC memiliki daftar rekomendasi alat-alat tersebut.
  • Beri edukasi kepada orang tua dan pengasuh tentang gegar otak dan apa yang bisa dilakukan. Kebanyakan orang dengan gegar otak akan sembuh total sekitar satu sampai tiga bulan. Penting untuk pasien, keluarga dan pelatih untuk mengetahui gejala yang dialami setelah gegar otak itu sembuh, bukan hanya yang normal terjadi, tetapi juga gejala yang mengisyaratkan masalah. Contohnya kesulitan tidur, gejala sakit kepala, dan murung – semua ini masih terbilang normal. Tetapi jika semua itu semakin memburuk, konsultasikan ke dokter.
  • Bantu anak-anak kembali ke kegiatannya secara perlahan pasca gegar otak. Istirahat, tidak hanya tubuhnya, tetapi juga pikirannya. Hal ini sangat penting untuk dua sampai tiga hari pertama, setelah itu penting untuk kembali ke kebiasaan normal. Istirahat yang berlebihan justru akan memperlama masa penyembuhannya.

Kembali ke aktivitas normal setelah gegar otak

Aktivitas setelah gegar otak perlu dilakukan secara bertahap. Dalam  hal ini keluarga, para dokter, sekolah dan pelatih harus bekerja sama. Dimulai dari hal yang sederhana sambal mengobservasi perkembangan anak tersebut.

Kalau mereka baik-baik saja, maka bisa ditambah sedikit lagi kegiatannya. Jika ada masalah, maka mereka perlu diperiksa kembali untuk memutuskan apakah kegiatan yang mereka lakukan terlalu berat dan harus dikurangi. Proses kembali ke kegiatan normal memerlukan beberapa waktu bahkan bisa sampai berbulan-bulan sesuai kondisi.

Yang terpenting ialah, tidak terburu-buru dalam prosesnya. Terlebih ketika harus kembali ke ranah olahraga, dimana gegar otak sangat mungkin terjadi lagi. Jika seorang anak mengalami gegar otak lagi ketika masih dalam masa penyembuhan, maka dibutuhkan waktu lebih lama lagi untuk sembuh total dan akan menempatkan mereka pada resiko cacat permanen.

Mengobati gegar otak memang penting, tetapi mencegahnya agar jangan sampai terjadi, jauh lebih penting.

Penyakit Read More

Apa Itu Penyakit Refluks Asam Lambung?

Antara kerongkongan dan perut kita dipisahkan oleh sebuah katup yang berbentuk seperti cincin dan terdiri dari otot-otot. Katup ini dinamakan LES atau Lower Esophageal Sphincter. LES membuka ketika makanan lewat namun tidak seketika tertutup setelahnya. Ketika LES sering terbuka, asam yang diproduksi oleh lambung akan mudah untuk terselip dan masuk ke area kerongkongan. Inilah mengapa ketika refluks asam lambung terjadi, nyeri yang dirasakan bisa sampai ke dada.

Ketika gejala refluks ini terjadi lebih dari dua kali dalam seminggu, maka perlu diwaspadai gejala refluks asam lambung.

Penyebab Refluks Asam Lambung

Salah satu penyebab yang paling umum adalah kondisi perut yang tidak normal, hiatal hernia. Kondisi ini muncul di perut bagian atas dimana posisi katup LES lebih tinggi dari diafragma. Hiatal hernia mengakibatkan asam masuk ke kerongkongan dan menyebabkan refluks asam lambung.

Ada beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan refluks asam lambung

  • Makan dengan porsi yang terlalu banyak lalu berbaring setelah makan
  • Badan yang terlalu gemuk atau obesitas
  • Makan makanan yang berat dan duduk dengan pinggang menekuk.
  • Makan menjelang tidur
  • Makan buah-buahan sitrus seperti tomat, makan cokelat, bawang putih, bawang bombai dan mint serta makan makanan pedas dan berlemak.
  • Minum minuman bersoda atau beralkohol, minuman berkafein seperti kopi, dan teh
  • Merokok
  • Hamil
  • Mengonsumsi aspirin, ibuprofen dan beberapa obat yang melemaskan otot serta obat untuk darah tinggi

Gejala-gejala refluks asam lambung

Berikut adalah gejala yang bisa muncul saat terjadi refluks asam lambung:

  • Nyeri dada. Nyeri ini mengakibatkan rasa sakit di area perut hingga dada bahkan sampai ke kerongkongan.
  • Regurgitasi. Rasa asam di mulut akibat asam lambung

Selain gejala yang umum di atas, berikut juga merupakan gejala refluks asam lambung yang kerap ditemui:

  • Sering bersendawa
  • Muntah disertai darah
  • Perut kembung
  • Disfagia – kondisi dimana kerongkongan menyempit sehingga makanan terasa mengganjal
  • Cegukan yang tak kunjung selesai
  • Rasa mual
  • Berat badan turun tanpa alas an
  • Batuk kering, suara parau dan sakit tenggorokan kronis

Bagaimana mendiagnosa refluks asam lambung?

Ketika gejala-gejala tersebut tak kunjung sembuh sampai dua minggu atau lebih, Anda perlu mewaspadai refluks asam lambung dan segera berkonsultasi dengan dokter. Terutama jika penggunaan antacid tidak dapat menyembuhkan gejala-gejala yang Anda alami.

Beberapa tes yang dapat memastikan apakah Anda terkena refluks asam lambung, antara lain:

  • Barium Swallow

Tes X-ray pada area kerongkongan untuk melihat struktur pencernaan atas

  • Esophageal manometry

Tes ini dapat mengetahui fungsi LES dan penyebab refluks asam lambung secara lebih pasti

  • pH monitoring

Tes ini dapat mengukur kadar asam yang terjebak di kerongkongan dengan cara memasukkan sebuah alat pengukur ke dalam tenggorokan.

  • Endoskopi

Tes ini dapat mengecek permasalahan yang ada di area kerongkongan hingga perut dengan memasukkan kamera lewat kerongkongan. Pertama-tama, dokter akan menyemprot kerongkongan dengan anestesi dan memberikan obat sedative agar Anda merasa lebih rileks.

  • Biopsy

Tes ini bisa digabung dengan endoskopi, dengan mengambil sample jaringan dan memeriksanya lewat mikroskop untuk melihat kondisi jaringan tersebut.

Refluks asam lambung dapat diatasi dengan antacid yang dijual bebas di took obat. Dengan meminum antacid dan mengubah gaya hidup, Anda dapat terhindar dari refluks asam lambung berkepanjangan.

Penyakit Read More

Cara Mengatasi Ketakutan Buang Air Besar di Tempat Umum

Ketakutan untuk buang air besar di tempat umum memang terkesan sepele. Padahal, hal ini dapat memicu masalah kesehatan berupa sembelit atau konstipasi saat Anda sedang berpergian. Misalnya saja saat musim mudik, di mana Anda harus rela mengantri untuk menggunakan toilet umum bersama dengan para pemudik lain. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri, orang-orang yang memiliki ketakutan untuk buang air besar di tempat umum memang merasakan hal yang tidak nyaman. Untuk itu, pahami beberapa langkah sederhana untuk membantu menenangkan diri dan perut Anda dengan meredakan ketakutan buang air besar di tempat umum.

Takut Menggunakan Kamar Mandi Umum?

Atasi Ketakutan Pada Toilet Umum

Banyak alasan mengapa seseorang merasa tidak nyaman dengan toilet umum yang ada di area istirahat atau tempat-tempat umum lainnya. Mulai dari aroma bau yang menyengat, tidak bersih, hingga toilet yang tidak menjaga ruang privat. Anda dapat mencoba beberapa hal untuk mengatasinya. Yang penting, cobalah untuk memahami apa yang sebenarnya membuat Anda takut. Carilah solusi untuk jawaban atas ketakutan yang Anda rasakan.

Cobalah Segera Pulang

Jika perjalanan yang Anda lakukan tidak jauh, seperti saat pergi berbelanja, Anda dapat menyegerakan diri untuk pulang dan buang air di rumah. Atau, Anda juga bisa mengupayakan untuk menjadwalkan waktu untuk buang air sebelum mulai berpergian sehingga Anda tidak perlu khawatir untuk merasakan keinginan buang air besar di luar rumah.

Atur Napas dengan Baik

Rasa cemas dapat membuat keinginan buang air besar Anda akan semakin memburuk. Meskipun begitu, rileks dan bersantai dapat membantu meredakannya. Pasalnya, saat Anda merasa stres, kerja organ pencernaan akan sangat terpengaruh. Untuk itu, tarik napas dalam perlahan-lahan dan hembuskan napas panjang. Anda dapat melakukan pernapasan perut sebanyak 10 hitungan.

Selalu Bawa Perlengkapan Toilet

Pastikan untuk selalu menyimpan perlengkapan toilet darurat di tas Anda. Anda dapat mengisinya dengan tisu kering, tisu basah, sabun antibakteri, pembersih tangan, obat pereda diare, dan pakaian dalam ganti. Anda mungkin tidak membutuhkan semua itu setiap saat, tetapi itu akan meredakan rasa takut dan khawatir. Apalagi jika Anda sedang mengalami masalah pencernaan, seperti diare atau konstipasi.

Bersikap Proaktif

Jika Anda sedang mengalami diare, meminum obat antidiare setengah jam sebelum pergi dapat meredakan gejala untuk sementara waktu. Perhatikan juga arahan dokter untuk solusi penanganan diare sebelum berpergian.

Hindari Makanan Pemicu

Produk susu seperti susu, keju, dan es krim dapat menyebabkan sakit perut, kembung, dan perut bergas bagi sebagian orang. Makanan yang mengandung fruktosa tinggi (seperti jus buah) dan minuman dengan kafein juga kerap menimbulkan diare. Untuk itu, berhati-hatilah. Pahami juga karakter dari perut Anda karena setiap orang memiliki kemampuan merespons makanan yang berbeda.

Ajukan Diri untuk Menjadi Pengemudi

Menjadi pengemudi saat berpergian akan memudahkan Anda untuk mengendalikan kapan harus menepi dan menjadi tempat istirahat untuk pergi ke toilet. Anda juga dapat merancang rute perjalanan sesuai dengan lokasi kamar kecil di sepanjang perjalanan yang nyaman. Jika Anda berpergian dengan pesawat, pilih tempat duduk di dekat toilet.

Jangan Biarkan Rasa Takut Mengendalikan

Jangan terlalu terbawa perasaan dan rasa takut untuk merasakan keinginan buang air besar di tempat-tempat yang Anda khawatirkan. Kecenderungan Anda dalam melebih-lebihkan ketakutan akan membawa Anda pada masalah yang akan menyulitkan diri Anda sendiri. Cobalah untuk tenang dan santai dalam menghadapi apa yang akan terjadi nantinya.

Penyakit Read More

Agar Cepat Pulih, Pahami Anjuran Pengobatan dan Makanan untuk Diare Ini

Diare pada dasarnya dapat sembuh dengan sendirinya seiring dengan istirahat dan menjaga asupan cairan tubuh. Akan tetapi, ada pula beberapa kasus diare yang sulit untuk disembuhkan dan terus berulang. Jika hal itu terjadi pada Anda, pastikan untuk mencari tahu penyebab diare yang terjadi dengan melakukan konsultas pada dokter. Cara terbaik bagi dokter untuk mengetahui penyebab dari diare Anda adalah dengan mendapatkan informasi dari mengenai keluhan yang Anda rasakan, mulai dari:

  • Apakah ada darah atau lendir dalam kotoran Anda?
  • Bagaimana tekstur dari kotoran Anda, seberapa banyak kandungan airnya?
  • Sejak kapan Anda mengalami diare?
  • Apakah ada orang di sekitar Anda yang mengalami diare?
  • Bagaimana frekuensi keinginan buang besar yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki sakit perut atau sakit di bagian dubur?
  • Apakah Anda mengalami demam?
  • Apakah Anda merasa pusing?
  • Apakah Anda baru saja berpergian?
  • Apakah Anda sedang mengonsumsi antibiotik, atau baru selesai menghabiskan resep antibiotik dari dokter?
  • Apakah ada jenis-jenis makanan tertentu membuat Anda lebih baik atau lebih buruk?

Selain itu, dokter mungkin juga akan membutuhkan sampel dari kotoran Anda dan melakukan tes darah untuk diuji dalam laboratorium.

Jika dokter menemukan bahwa ada jenis makanan tertentu yang menyebabkan masalah diare Anda, ia mungkin akan menyarankan Anda untuk menghindari asupan makanan tersebut untuk melihat apakah diare akan mereda. Pada umumnya, makanan yang kerap menimbulkan diare adalah intoleransi terhadap produk susu, atau yang juga biasa disebut sebagai intoleransi laktosa. Jika begitu, upaya perubahan pola makan biasanya akan sangat membantu.

Namun, apabila dokter masuk belum menemukan jawaban untuk penyebab diare yang Anda alami, mungkin ia akan membutuhkan lebih banyak informasi agar dapat mengetahui dengan pasti apa yang terjadi. Anda mungkin perlu melakukan tes yang disebut kolonoskopi. Tes ini dilakukan dengan menggunakan tabung seperti ular yang memungkinkannya melihat dinding usus besar dan dubur Anda.

Pengobatan untuk Diare

Langkah pengobatan untuk diare sebenarnya bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Pasalnya, diare biasanya dapat hilang dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Jika Anda mengalami diare, beristirahatlah dan perbanyak asupan cairan tubuh hingga Anda merasa lebih baik. Jangan lupa pula untuk terus memerhatikan apa yang Anda makan.

Hal-hal tersebut sangat penting, sebab selama diare tubuh Anda akan kehilangan air dan nutrisi yang ada di dalam tubuh dan membuangnya bersama kotoran. Jika dibiarkan, Anda bisa mengalami dehidrasi. Untuk itu, perbanyak asupan cairan tubuh, seperti air, kaldu, atau jus buah, khususnya di siang hari agar tubuh tetap terhidrasi.

Selain itu, cobalah untuk mengonsumsi sekitar 2-3 liter (8-12 gelas) air sehari saat Anda diare. Anda bisa meminumnya dalam jumlah kecil di antara waktu makan dan saat Anda makan. Dokter mungkin juga akan merekomendasikan minuman olahraga untuk menggantikan garam, kalium, dan elektrolit lain yang juga ikut hilang saat diare.

Makanan untuk Diare
Saat sedang diare, pilihlah asupan makanan hambar dengan kandungan serat rendah sampai Anda diare mulai mereda dan tubuh terasa lebih baik. Biasanya, dokter menyebutnya sebagai diet BRAT:

  • Banana (Pisang)
  • Rice (Nasi putih)
  • Apple sauce (Saus apel)
  • Toast (Roti panggang)

Pilihan makanan lain yang juga direkomendasikan, antara lain:

  • Kentang
  • Selai kacang
  • Ayam atau kalkun tanpa kulit
  • Yogurt

Hindari makanan yang dapat memperburuk diare atau gas, seperti:

  • Makanan berlemak atau gorengan
  • Buah dan sayuran mentah
  • Makanan pedas
  • Minuman berkafein, seperti kopi dan soda
  • Kacang polong
  • Kubis

Perawatan Diare

Pada umumnya, diare tidak perlu diobati. Meskipun begitu, beberapa obat bebas dapat membantu meredakan gejala yang mengganggu sehingga Anda akan merasa lebih baik. Akan tetapi, Anda juga dapat melakukan beberapa perawatan dokter apabila mendapatkan beberapa gejala seperti:

  • Terasa nyeri dan sakit parah di perut atau bokong Anda
  • Kotoran berdarah atau hitam
  • Dehidrasi – Anda merasa sangat haus, buang air kecil lebih sedikit dari biasanya, mulut kering, dan merasa lemas
  • Terasa demam 38 derajat celsius atau lebih tinggi
  • Diare tidak membaik dalam 48 jam

Penyakit Read More