“Mahar” Pengembangan Vaksin Corona Ditaksir Habis Miliaran Dolar

Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona jenis baru, SARS-CoV-2, masih berlangsung tanpa ada jaminan secuil pun kapan semuanya akan mereda. Bahkan di Indonesia dan beberapa negara lain, seperi Amerika Serikat misalnya, covid-19 tengah menunjukkan tren menanjak. Setiap harinya, ratusan orang baru dikonfirmasi terinfeksi virus tersebut. Di satu sisi, pengembangan vaksin corona, yang mungkin bisa menjadi “pelangi” untuk menghapus “badai” ini belum juga mendapat titik terang.

Akan tetapi, upaya menuju ke situ bukan tak sama sekali dilakukan. Sejak pertama kali Covid-19 mewabah di Wuhan, Tiongkok, elemen-elemen yang mendedikasikan dirinya di dunia kesehatan terus berusaha menemukan sesuatu untuk mencegah dan menyudahi serangan tak terduga-duga ini.

Setidaknya tercatat 20 perusahaan atau organisasi sector publik di seluruh dunia tengah berpacu untuk menemukan vaksin corona. Salah satu dari mereka adalah Moderna. Moderna termasuk salah satu dari empat proyek yang didanai oleh Organisasi global yang berbasis di Oslo, Koalisi untuk Kesiapsiagaan Epidemi Inovasi (CEPI).

Dalam proses kerjanya, Koalisi untuk Kesiapsiagaan Epidemi Inovasi melalui sang CEO, Richard Hatchett, mengatakan bahwa untuk dapat menemukan vaksin corona butuh “mahar” yang tidak murah. Ia menaksir bahwa pengembangan vaksin corona ini bisa menghabiskan dana sekitar 2 miliar dolar. Tak hanya itu, vaksin ini tak dapat jadi secara instan. Setidaknya butuh 18 bulan untuk menyelesaikan proyek tersebut.

Mungkin, vaksin corona pertama di dunia baru benar-benar dapat digunakan dalam jangka waktu tersebut, sebab masih menurut Hatchett, Moderna merupakan perusahaan paling cepat dalam “perlombaan” ini. CEPI memang amat memprioritaskan pengembangan vaksin corona tersebut. Oleh karenanya, Moderna yang telah satu visi terus bekerja keras untuk dapat menciptakan “pelangi” tersebut.

CEPI bersama Moderna berpengangan bahwa Covid-19 adalah suatu urgensi yang nyata. Pasalnya, pandemi ini merupakan ancaman bagi dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 100 tahun terkahir. “Terutama dalam hal kecepatan dan potensi keparahannya,” kata Hacthett, merujuk pandemi Flu Spanyol pada 1918 silam.

Keberhasilan Moderna sebagai yang terdepan datang ketika kepala eksekutifnya, Stephane Bancel, yang pernah menangani flu babi, memanggil kontak di National Institutes of Health. Kemudian, pada musim gugur ini, kedua organisasi telah sepakat untuk menjalankan tes di pabrik perusahaan untuk melihat seberapa cepat mereka dapat menanggapi pandemic Covid-19. Tetapi sebelum kemungkinan terjadi, virus corona tipe baru datang dan menjelma seolah-olah sebagai sebuah tes yang nyata.

Dalam proyek ini, organisasi-organisasi tersebut tentu saja dibantu oleh Tiongkok. Para ilmuwan di Tiongkok menerbitkan secara online genom virus corona yang terdiri dari 30 ribu “huruf” biokimia dari kode genetiknya pada 10 Januari lalu. Dari kode dan urutan genomik tersebut, langkah pertama untuk menemukan vaksin corona bisa ditempuh.

Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIH), Dr Anthony Fauci, menjelaskan lebih lanjut bahwa para peneliti di organisasinya menyalin bagian dari kode genetik virus yang berisi instruksi bagi sel untuk membuat lonjakan protein. Moderna membungkus “pengantar RNA” itu ke dalam vaksin.

Fauci meyakini dapat menyelesaikan membuat vaksi kurang dari 18 bulan. Timnya akan mencoba mengembangkan teknologi platform untuk memfasilitasi pengembangan vaksin dengan cepat. Salah satu platform tersebut adalah produksi vaksin Moderna berdasarkan genetika virus.

Pada 7 Februari silam, para ilmuwan perusahaan telah memproduksi puluhan dosis vaksin tingkat klinis, cukup untuk uji coba awal NIH pada sukarelawan sehat. Uji coba itu telah terjadwal dan akan dilakukan pada April ini.

Nantinya, vaksin corona yang dikerjakan oleh Moderna ini akan berjenis “vaksin asam nukleat”, yang mengandung resep genetik untuk protein virus dalam bentuk DNA atau messenger RNA (mRNA). Itu membuat penerima manusia menghasilkan protein di dalam tubuh mereka. Belum ada vaksin virus yang terbuat dari asam nukleat yang dilisensikan untuk penggunaan manusia.

Sekarang, mari kita tunggu sambil berharap pengembangan vaksin corona yang dilakukan oleh Moderna atau organisasi, instansi, atau pihak-pihak terkait dapat berjalan dengan mulus dan dapat selesai secepatnya agar pandemi covid-19 yang telah memakan puluhan ribu korban jiwa ini lekas tertangani dan kita dapat kembali menjalani kehidupan seperti sedia kala.

Hidup Sehat, Penyakit Read More