Prosedur Cuci Darah dengan BPJS Kesehatan, Begini Aturannya

Cuci darah memang menjadi prosedur rutin yang harus dilakukan oleh penderita gagal ginjal kronis. Prosedur cuci darah setidaknya dilakukan 1-3 kali dalam seminggu. 

Pelayanan hemodialisa alias cuci darah butuh biaya yang tidak sedikit. Untungnya, peserta BPJS Kesehatan bisa mendapatkan pelayanan cuci darah yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan bagi peserta aktif, sesuai indikasi medis, serta mengikuti prosedur yang berlaku.

Pentingnya Cuci Darah Bagi Penderita Gagal Ginjal

Cuci darah merupakan prosedur yang diperlukan bagi penderita gagal ginjal untuk membuang limbah berbahaya dan cairan berlebih dalam tubuh. Prosedur cuci darah ini dilakukan untuk menggantikan fungsi ginjal. Sehingga keseimbangan cairan dan partikel elektrolit dalam tubuh tetap terjaga meskipun ginjal tidak mampu menjalankan fungsinya.

Jika tidak melakukan cuci darah, garam dan produk limbah lainnya akan mengalami penumpukan di darah yang kemudian dapat meracuni tubuh dan merusak organ tubuh. Oleh karenanya, prosedur cuci darah penting untuk pasien gagal ginjal agar bisa terus menjalani hidup yang berkualitas.

Namun, dengan rutin melakukan cuci darah tidak dapat mengobati penyakit gagal ginjal kronis yang diidapnya pasien.

Kapan Pasien Gagal Ginjal Menjalani Cuci Darah?

Jika pasien sudah mengalami gagal ginjal stadium akhir atau ginjal sudah tidak dapat menjalankan 85-90 % fungsi normalnya, maka pasien perlu melakukan prosedur cuci darah.

Acuan lainnya adalah nilai eFGR. Semakin rendah nilai eFGR, maka kerusakan ginjal juga semakin parah. Jika nilai eFGR di bawah 15, maka pasien harus menjalani cuci darah. Bahkan cuci darah biasanya dijalankan seumur hidup, kecuali pasien mendapatkan transplantasi ginjal.

Biaya Cuci Darah

Sekali melakukan prosedur cuci darah, biaya yang dibutuhkan berkisar antara Rp 1-2 juta. Berbeda rumah sakit berbeda pula tarifnya. Setidaknya dalam satu bulan, pasien penderita gagal ginjal kronis harus melakukan cuci darah setidaknya 8 kali. Jika dikalikan, tentu biaya ini tidak sedikit. Inilah yang membuat banyak pasien yang menghindari cuci darah akibat biaya yang dibutuhkan sangat banyak. Namun, setiap orang yang terdaftar BPJS Kesehatan akan merasa terbantu dengan adanya layanan cuci darah dari BPJS.

Peraturan BPJS Kesehatan untuk Tindakan Cuci Darah

Layanan cuci darah dapat diperoleh oleh semua peserta aktif BPJS Kesehatan. Syarat lainnya adalah peserta harus mengikuti prosedur yang berlaku dan sesuai dengan indikasi medis.

Syaratnya, bagi peserta yang ingin melakukan cuci darah, cukup meminta surat rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat I. Kemudian prosedur cuci darah bisa langsung dilakukan.

Peraturan baru untuk peserta yang melakukan tindakan cuci darah dengan BPJS Kesehatan adalah mengenai surat rujukan. Jadi surat rujukan dari faskes tingkat I untuk faskes rujukan tingkat lanjutan hanya berlaku satu kali untuk diagnosis yang sama serta tujuan rujukan yang sama pula.

Kontrol selanjutnya baru dapat dilakukan maksimal tiga bulan sejak tanggal dikeluarkan rujukan awal. Hal ini sebagai upaya monitoring oleh Faskes ingkat Pertama yang bertindak sebagai care coordinator.

Prosedur Cuci Darah Semakin Mudah dengan Finger Print

Terhitung sejak awal tahun 2020 lalu, layanan kesehatan untuk cuci darah dari BPJS Kesehatan semakin mudah untuk dilakukan di RS atau klinik utama. Dengan dimplifikasi prosedur ini, peserta cuci darah tidak perlu membuat surat rujukan berulang dari faskes tingkat I. Tetapi cukup dengan penggunaan finger print atau sidik jari di RS.  Syaratnya, pasien harus melakukan rekam sidik jari dulu. Kemudian setiap kali akan melakukan cuci darah, pasien tidak perlu ke faskes tingkat I untuk mendapatkan surat rujukan.

Jika sidik jari pasien peserta BPJS sudah terekam di RS, maka bisa langsung melakukan prosedur cuci darah dengan finger print saja.

Penyakit Read More